Agen Outsourcing, parasit ekonomi dan serikat buruh?

Syarif Arifin | 2 Mei 2011



Foto 1 | Pasar sabtu dan minggu di depan PT Kahatex Cigondewah Kaler-Kota BandungPengantar


Pemekerjaan buruh tidak tetap dalam berbagai bentuknya semakin luas. Pencari kerja, buruh tetap, buruh kontrak dan outsourcing ikut dirugikan. Upah dan perlindungan terus berkurang, sementara kesempatan kerja terbatas. Negara maupun pengusaha pun ikut terdampak ekses buruk tersebut, karena fleksibilisasi mendorong kelahiran pelaku aktivitas ekonomi baru. Mereka tidak menyumbang pendapatan negara, menyedot keuangan perusahaan dan menghisap buruh. Itulah penyalur tenaga kerja.

Demikian intisari diskusi pada 17 April 2010, yang dilaksanakan Pusat Analisis Sosial Akatiga, Lembaga Informasi Perburuhan Sedane (LIPS) dan serikat-serikat buruh di Tangareng, Cilegon, dan Serang provinsi Banten di Aula Desa Kibin Kecamatan Kibin Kabupaten Serang Provinsi Banten dengan tajuk Strategi Serikat Buruh Menghadapi Fleksibilisasi Tenaga Kerja. Diskusi dihadiri; perwakilan Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Serikat Pekerja Nasional (SPN) Kabupaten Serang, perwakilan DPC SPN Kota Serang, perwakilan Federasi Serikat Buruh Karya Utama (FSBKU) Kota Tangerang, perwakilan Serikat Buruh Garmen, Tekstil dan Sandang-Gabungan Serikat Buruh Independen (SBGTS-GSBI) Tangerang, dan perwakilan Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) Serang.
Diskusi menghadirkan dua narasumber, yaitu Nuzulun Ni’mah dari Federasi Serikat Buruh Karya Utama (FSBKU) Kota Tangerang dan Indrasari Tjandarningsih (Peneliti Senior Pusat Analisis Sosial Akatiga).

Kata kunci: Buruh kontrak, buruh outsourcing, penyalur tenaga kerja, serikat buruh

Bekerja dalam kondisi aman, dilindungi, serta memiliki kepastian kerja adalah dambaan setiap orang. Undang-undang pun menegaskan agar setiap orang dapat bekerja selayaknya manusia. Namun, harapan tersebut harus dikubur. Beberapa tahun ini, istilah bekerja aman dan tetap sedikit demi sedikit hilang dari kamus pasar kerja. Di mana-mana orang bekerja dengan status dikontrak dalam jangka pendek atau melalui agen penyalur. Bahkan, banyak orang harus rela membayar untuk bekerja. Ironis.

Riset Pusat Analisis Sosial Akatiga mengenai Praktek Kerja Kontrak dan Outsourcing Buruh di Sektor Industri Metal Indonesia pada Desember 2010 menemukan, buruh kontrak dan outsourcing bekerja tanpa kepastian kerja, tanpa perlindungan dan diupah sangat rendah. Mereka bekerja dalam keadaan rentan alias precarious work. Penelitian tersebut menemukan pula bahwa hampir semua sektor industri, bermodal asing maupun dalam negeri, memelihara hubungan kerja fleksibel tersebut. Mereka dipekerjakan di bagian produksi maupun nonproduksi. Orang-orang yang bekerja sebagai buruh kontrak dan outsourcing ini rata-rata perempuan muda berumur kurang dari 25 tahun.

Di lapangan istilah buruh fleksibel beragam: buruh harian lepas, buruh borongan, masa percobaan dan magang. Mereka disebut fleksibel karena mudah untuk direkrut, upahnya fleksibel dan tidak sulit dikeluarkan.

Penelitian tersebut menemukan pula menjamurnya penyalur tenaga kerja sebagai pihak ketiga. Agen outsourcing ini memungut biaya dari tenaga kerja yang direkrutnya maupun dari pengguna tenaga kerja. Aktivitas penyalur calon buruh ini mirip jual-beli manusia.

Masifikasi tenaga kerja fleksibel

“Di tempat saya bekerja tidak ada buruh outsourcing. Tapi, buruh kontraknya banyak,” papar Sutisna perwakilan Pimpinan Serikat Pekerja (PSP) SPN PT Lung Cheong Brothers Industrial, sebuah perusahaan yang memproduksi mainan anak. Di PT Shinta Group, sebuah perusahaan tekstil bermodal dalam negeri, di Kota Tangerang, ”Dari 2.158 buruh, sekitar 300 orang buruh kontrak,” kata perwakilan Pimpinan Tingkat Pabrik (PTP) SBGTS-GSBI Kota Tangerang. Keduanya tidak merinci di bagian apa buruh kontrak itu di pekerjakan. Istilah buruh kontrak dan outsourcing begitu familiar di mata serikat buruh. Dalam setiap kegiatan protes massa, kedua istilah tersebut kerap dipersandingkan sebagai sesuatu yang wajib ditolak dan dihapuskan.

Buruh kontrak dan outsourcing adalah beberapa bagian dari fleksibilisasi tenaga kerja. integral dengan konsep tenaga kerja fleksibel adalah buruh borongan, buruh harian lepas, buruh paruh waktu, buruh migran, dan buruh rumahan.
Buruh fleksibel didorong oleh lembaga keuangan internasional, dipatenkan dalam aturan ketenagakerjaan dan dikondisikan dengan otonomi daerah. Dana Moneter Internasional (IMF) mendorong penerapan buruh fleksibel sebagai prasyarat cairnya utang untuk Indonesia, pada 1995 lalu. Pemerintah pun meresponsnya dalam serangkaian peraturan untuk perbaikan iklim investasi dan aturan ketenagakerjaan.

Pusat Analisis Sosial AKATIGA dalam kertas Fleksibilitas Pasar Kerja dan Tanggung Jawab Negara mengatakan bahwa pasar kerja fleksibel adalah upaya serius pemerintah untuk menyambut semangat ekonomi global untuk melenturkan sistem ketenagakerjaan. Syaratnya negara harus menjauh dari urusan ketenagakerjaan. Perlindungan negara berupa penetapan upah minimum, pengaturan pesangon, pemutusan hubungan kerja, soal usia kerja dan berbagi proteksi lain, berarti mendistorsi pasar. Misi suci itu diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi, mengondusifkan iklim investasi dan perluasan kesempatan kerja.

Di Undang-Undang Ketenagakerjaan (UUK) Nomor 13 Tahun 2003, buruh kontrak diistilahkan dengan Pekerja Waktu Tertentu (PKWT) di Pasal 56. Sementara outsourcing diistilahkan dengan pemborongan pekerjaan dan penyedia jasa pekerja/buruh, di Pasal 64. Beberapa pasal lainnya mengatur: buruh kontrak tidak boleh dibayar di bawah upah minimum dan untuk buruh outsourcing hanya untuk pekerjaan yang bersifat menunjang. Bagaimana jika dilanggar? Tidak ada sanksi tegas. Pasal-pasalnya hanya menyatakan: batal demi hukum. Misalnya, Pasal 58 Ayat 1 menyatakan: Perjanjian kerja untuk waktu tertentu tidak dapat mensyaratkan adanya masa percobaan kerja. Ayat 2: Dalam hal disyaratkan masa percobaan kerja dalam perjajian kerja sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), masa percobaan kerja yang disyaratkan batal demi hukum

Di lapangan, buruh kontrak kerap harus melalui masa percobaan. Ada pula buruh yang dikontrak bertahun-tahun. Dan, banyak pula buruh outsourcing bekerja di bagian inti produksi.

Setelah diundangkannya UUK Nomor 13 Tahun 2003, praktik buruh fleksibel menjadi tren di semua sub sektor industri. Penelitian FSBKU pada 2008 di Tangerang menemukan, hampir 80 persen status buruh adalah kontrak dan outsourcing. “Yang paling dirugikan dari sistem ini adalah perempuan,” ungkap Nuzul, panggilan Nuzulun Ni’mah. Menurut Nuzul, buruh kontrak dan outsourcing tidak didaftarkan ke Jamsostek dan tidak boleh menjadi anggota serikat. Padahal, menurut konvensi ILO Nomor 87 berserikat merupakan hak dasar buruh. Bahkan, Undang-Undang Ketenagakerjaan Nomor 21 Tahun 2000 mengenai kebebasan berserikat mengatakan, melarang berserikat termasuk pelanggaran pidana.

Tidak seperti buruh tetap, bagi buruh kontrak dan outsourcing, nuansa diskriminasi dan eksploitasi sangat kuat. Urusan seragam pun dibedakan. Tapi, mengerjakan hal yang sama dengan buruh tetap.

Keheranan lain muncul, yakni perekrutan buruh kontrak dan outsourcing bukan lahir dari kesempatan kerja yang baru. Praktiknya, perusahaan melakukan “pembersihan” buruh-buruh tetap. Di PT Parkland World Indonesia (PWI), sebuah perusahaan yang memproduksi sepatu, terjadi PHK masal, pada 2009. “Sejak 2010, buruh-buruh kontrak mulai direkrut,” kata Agus Salim PSP PT PWI dengan datar. Sementara di PT Grand Pintalan, perusahaan pemintal benang dan anak usaha Agro Manunggal Grup, status kerja berubah drastis setelah perusahaan mengaku pailit. Sebanyak 380 buruhnya di-PHK. “Beberapa bulan setelah itu, perusahaan beroperasi dengan merekrut tenaga kerja kontrak dari Bandung. Sisanya, dari buruh yang lama,” ujar Sohari. Sebelum di-PHK Sohari adalah Ketua PSP PT Grand Pintalan. Alhasil, di PT Grand Pintalan tidak ada serikat. Perekrutan buruh kontrak dan outsourcing bukan hanya menyingkirkan buruh tetap. Juga menendang serikat buruh. Alhasil, penerapan konsep fleksibilisasi tenaga kerja membawa dampak tidak langsung: pengurangan anggota serikat.

PT Grand Pintalan adalah satu dari beberapa perusahaan yang mengaku terdampak krisis keuangan global, pada akhir 2008. Dalam Surat Edaran Nomor: SE-907/MEN/PHI-PPHI/X/2004 tentang Pencegahan Pemutusan Hubungan Kerja Massal, dinyatakan bahwa PHK adalah jalan terakhir setelah melakukan mengurangi upah dan fasilitas pekerja tingkat atas. PT Grand Pintalan cerdik. Ia menutup usahanya dan semua buruhnya dikeluarkan. Pola demikian, sebenarnya tidak terlalu aneh. Di berbagai tempat, ajimat pailit kerap didengungkan untuk memecat buruh. Dengan berbagai alasan, perusahaan melakukan serangkaian siasat untuk mengurangi buruh tetap tanpa melaui tahapan-tahan sebagaimana dalam surat edaran di atas.

Krisis keuangan global akhir 2008 menjadi seolah menjadi momentum mengubah status kerja tetap menjadi sementara. Waktu itu dikabarkan ekspor Indonesia anjlok, karena pasar Amerika dan Eropa melemah. Di dalam negeri para eksportir dan importir kelimpungan. Media massa, berkali-kali mengabarkan ancaman pemutusan hubungan kerja massal. Di lapangan, pemutusan hubungan kerja tidak kenal ampun: buruh kontrak dihabisi masa kontraknya, buruh tetap bahkan aktivis serikat tersingkir dari arena produksi. Alasannya, perusahaan terdampak krisis keuangan global. Akhir 2010, pertumbuhan ekonomi Indonesia membaik. Bahkan, dikabarkan produksi industri manufaktur terbaik selama lima tahun terakhir. Namun, pemutusan hubungan kerja disertai perekrutan tenaga kerja tidak tetap terus berlangsung. Kini, alasanya daya saing industri melemah.

Fleksibilisasi tenaga kerja adalah sebuah konsep. Ia berasumsi bahwa dengan sistem kerja yang lentur maka kesempatan kerja akan terbuka lebar, yang pada akhirnya akan menyerap tenaga kerja ke sektor formal dan mendukung pertumbuhan ekonomi. Tujuan fleksibilisasi tenaga kerja agar perusahaan dapat fleksibel menghadapi fluktuasi perusahaan dan memenangkan persaingan. Tenaga kerja pun dibuat fleksibel. Meski fleksibilisasi tenaga kerja memiliki tujuan memperluas kesempatan kerja, faktanya lowongan kerja terbatas.

Dalam aturan ketenagakerjaan, buruh outsourcing hanya boleh dipergunakan di bagian penunjang produksi, seperti cleaning service, catering, security, penyedia jasa angkutan, dan penunjang di pertambangan dan perminyakan. Praktiknya berlainan. Meski melawan aturan, toh perekrutan buruh kontrak atau outsourcing terus berjalan. ”Pada 2007, kami melaporkan buruh kontrak ke Dinas Tenaga Kerja. Tapi 2008, muncul buruh outsourcing,” ujar Mahdum perwakilan PSP PT Roda Mas Baja Intan dengan heran. PT Roda Mas adalah perusahaan logam. “Mereka (buruh outsourcing) disuplai koperasi dan kelurahan.”

Keadaan tersebut diperparah dengan keadaan pegawai dinas tenaga kerja yang tidak memiliki latar belakang ketenagakerjaan. “Pemerintah daerah pun tidak punya program untuk melatih pengawasnya,” tegas Asih, panggilan Indrasari Tjandraningsih. Karena itu berbagai pelanggaran terhadap penggunaan buruh kontrak dan outsourcing seakan dibiarkan.


Penyalur tenaga kerja

Harian Kompas, 7 Oktober 2009 dengan judul Wajah Banten Lama Makin Sempurna, menyebut kehadiran para penyalur buruh ini sebagai parasit ekonomi. Pasalnya, keuntungan yang mereka peroleh hanya memenuhi kantong sendiri. Di tengah persoalan ketenagakerjaan, penyalur tenaga kerja adalah golongan tersendiri. Soal penyedia jasa tenaga kerja sebenarnya diatur dalam UUK Nomor 13 Tahun 2003 Pasal 66. Dalam Keputusan Menteri Nomor 101 Tahun 2004 dinyatakan bahwa penyalur tenaga kerja harus berbadan hukum PT atau koperasi, ”Praktiknya macam-macam. Ada CV, yayasan, lembaga pendidikan bahkan perseorangan,” ungkap Asih.

Masih menurut harian Kompas, kelompok jawara adalah satu di antara pihak ketiga yang berperan sebagai penyalur buruh kepada perusahaan-perusahaan di Banten. Di Banten istilah jawara punya tempat tersendiri. Hadir sejak zaman Wali Songo hingga zaman Facebook. Ia tidak hanya merujuk pada soal kemampuan fisik: jagoan silat dan kebal senjata tajam. Juga, menandakan posisi sosial.

Sohari aktivis Serikat Pekerja Nasional punya banyak pengetahuan mengenai peranan jawara dalam soal perburuhan. Menurutnya, tiap jawara memiliki wilayah kekuasaan untuk berebut posisi ekonomi. “Dulu, kalau Grand Pintalan aksi, saya sowan dulu ke sesespuh (jawara). Supaya tidak dibubarkan. Aksi PT Frans Putratex pernah dibubarkan oleh jawara,” kenang Sohari. PT Frans Putratex adalah perusahaan tekstil, di mana PSP SPN berdiri. Ketua advokasinya, Maya Agung Dewandaru, dituduh menggelapkan uang koperasi hingga harus mendekam di rumah tahanan. Sementara 43 pengurus dan anggota serikat di-PHK pada 2009 lalu. Kini, di PT Frans Putratex meluas juga perekrutan buruh kontrak. Posisi Agung waktu itu adalah ketua tim advokasi untuk kasus PHK di PT Panca Plaza, PT Grand Pintalan dan PT Frans Putratex. Sohari menggambarkan peranan jawara sebagai antek perusahaan: menghalangi aktivitas serikat.

Selain jawara ada pula aparat desa, aparat militer, polisi, hingga “serikat buruh”, yang mengambil keuntungan dari bisnis penyaluran tenaga kerja ini. Jasa yang harus dibeli oleh calon buruh adalah biaya formulir seharga Rp 25.000 hingga Rp 60.000. Variasi harga tergantung posisi yang ingin dituju. Kemudian membayar Rp 1 juta hingga Rp 3 juta, kalau diterima kerja. Sistemnya bisa membayar dimuka atau dicicil per bulan. Kalau kontraknya diperpanjang, bayar lagi.

Lapisan selanjutnya adalah menurunnya kesejahteraan buruh akibat maraknya pungutan liar. Ini pun masalah tersendiri yang merugikan semua status buruh. Pungutan liar semakin marak ketika otonomi daerah dikumandangkan. Atas nama meningkatkan pendapatan asli daerah, birokrasi pemerintah seolah punya kewenangan untuk “memeras” dunia usaha. ”Di luar itu, setiap bulan kami juga harus setor ke mereka walaupun jumlahnya tak sebesar hari-hari besar itu. Biasanya Rp 150.000-Rp 250.000 per institusi,” kata Rano. Rano adalah nama samaran dalam liputan harian Kompas di atas. Dalam laporan tersebut dipaparkan bagaimana perusahaan terpaksa harus mengeluarkan upeti untuk Polisi Pamong Praja, Komandan Rayon Militer, kepolisian, kantor kecamatan, kantor kelurahan, ketua rukun warga, hingga rukun tetangga. Pada hari raya tertentu seperti Hari Raya Idul Fitri, Tahun Baru dan peringatan Proklamasi Kemerdekaan proposal dipastikan datang lengkap dengan cap dan tandatangan instansinya. Untuk THR, biasanya, perusahaan mengeluarkan dana sebesar Rp 250.000 per kepala. Untuk itu harus ada yang dikorbankan, yakni upah atau tunjangan buruh yang harus dikurangi. Adapula setoran bulanan yang berkisar antara Rp 150.000-Rp 250.000 per institusi.

Penutup

Gambaran di atas, memperlihatkan bagaimana fleksibilisasi tenaga kerja hanya menguntungkan beberapa gelintir orang. Adakah jalan keluar menghadapi parasit ekonomi, melemahnya kekuatan serikat dan meluasnya pelanggaran ketenagakerjaan?

Menurut Indrasari Tjandraningsih, buruh kontrak dan outsourcing adalah satu bagian dari konsep fleksibilisasi tenaga kerja. Fleksibilisasi pun memiliki tujuan untuk mematahkan kekuatan serikat buruh. “Kalau kita merasa bingung menghadapi fleksibilisasi tenaga kerja, udah bener. Karena memang itu tujuannya,” ujar Asih berseloroh. “Mari kita pikirkan bagaimana mengatasinya,” imbuhnya.

Tidak ada komentar:

Share it